StatCounter

View My Stats

Thursday, August 25, 2016

Danau Linow Tomohon, tempat plesiran indah sekitaran Manado

Agak sedikit menjauh dari kota Manado sekitar kurang lebih 30 km terdapat danau yang sangat cantik. Danau Linow namanya. Danau Linow ini terletak di Desa Lahedong, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon Minahasa Sulawesi Utara. Perjalanan yang dibutuhkan untuk ke danau linow ke Manado adalah sekitar 1-1,5 jam lebih. Agak lama memang, karena lokasinya memang berada di wilayah perbukitan jadi jalanan yang dilalui berkelok-kelok. So….jangan bandingkan dengan 30 km lewan jalan tol Jakarta – Bekasi ya. Untuk menuju lokasinya sendiri tidak susah, banyak petunjuk jalan yang akan mengarahkan kita ke danau linow Tomohon ini.

Menurut informasi yang saya dengar sebelumnya, warna air di danau linow bisa berubah-ubah menjadi 3 warna jika dilihat dari atas bukit. Warna tersebut bisa hijau, biru, dan coklat kekuningan. Perubahan warna disebabkan karena di salah satu sisi danau terhubung langsung dengan sumber air yang mengandung belerang. Selain itu, berubahnya warna air disebabkan oleh pembiasan cahaya dan pantulan dari vegetasi di sekitar danau. Sayangnya waktu itu saya hanya mendapati warna airnya hanya hijau. Itupun dalam foto terlihat biru. Mungkin saya belum beruntung.

pemnandangan danau linow

Menurut penuturan teman saya yang tinggal di Manado, dulunya danau ini tidak terawat. Namun setelah dikelola oleh pihak swasta, danau ini menjadi terawat dan jauh lebih bersih sehingga tak heran jika saat ini sudah menjadi destinasi favorit tidak hanya oleh turis lokal tapi juga turis mancanegara. Pada saat saya ke sana, saya juga menemui banyak sekali turis asing yang saya perkirakan berasal dari Cina.

bangku-bangku untuk menikmati kudapan


Mengenai tiket, menurut saya harganya juga tidak termasuk mahal namun tidak bisa dikatakan murah. Untuk satu orang dikenakan Rp. 25.000,- saja. Harga ini sudah termasuk secangkir minuman. Kita boleh memilih minuman teh atau kopi yang tentunya disajikan hangat-hangat. Bagi yang ingin tambahan makanan, kita bisa juga memesan makanan, ada roti bakar atau pisang goroho yang dicocol dengan sambal khas manado yang pedas. Sayangnya saya tidak sempat membuat dokumentasi makanan di tempat wisata yang satu ini. Mengapa? Karena waktu berkunjungnya sangat singkat dan sudah terpesoda dengan keindahannya.

Jadi, bagi yang sedang jalan-jalan ke Manado atau yang berencana hendak ke Manado jangan lupa mampir ke danau linow Tomohon ini ya. Untuk tempat jalan-jalan seputaran Manadonya sudah pernah saya tulis disini, dan untuk hal menarik tentang Manado lainnya saya tulis disini.

Jalan jalan ke Manado

Hi….kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya ke Manado beberapa minggu yang lalu. Perjalanan ini sebenarnya adalah dalam rangka kerja, jadi maklum saja tempat-tempat yang saya kunjungi tidak banyak karena dari pukul 8.00 sampai pukul 16.00 waktu saya terpakai untuk urusan pekerjaan. Namun setidaknya saya masih bisa jalan-jalan di seputaran kota Manado plus menyempatkan diri sejenak untuk mengunjungi danau Linow di daerah Tomohon. Untuk di kota Manadonya sendiri setidaknya ada 2 tempat yang harus dikunjungi, yaitu kawasan boulevard dan jembatan Ir. Soekarno.

Kawasan Boulevard Manado

Boulevard adalah kawasan yang paling ramai di kota Manado. Terletak di tengah-tengah kota Manado, kawasan ini merupakan kawasan yang menyajikan panorama pantai yang indah. Tak heran jika saat weekend, tempat ini seringkali dijadikan tempat berkumpulnya warga Manado untuk sekedar melakukan senam pagi bersama atau olahraga bersama keluarga.

Kawasan boulevard agaknya memang cocok dijadikan salah satu landmark di Manado. Selain pemandangan pantai yang indah, kawasan ini terhitung sangat lengkap untuk para traveler. Hotel, mall, pertokoan, dan tempat jajanan mulai dari jajanan umum sampai jajanan khas manado mudah ditemukan dalam jarak yang berdekatan. Jadi pas sudah, traveler bisa berwisata kuliner sambil menikmati suasana sunset dengan pemandangan pulau Manado Tua.


Saat jalan-jalan ke boulevard saya juga tak lupa mencicipi beberapa kuliner terkenal di sana. Salah satunya adalah di tuna house. Sesuai dengan namanya, menu makanan utama di disini adalah ikan tuna yang dipanggang seperti steak. Namun bagi yang menginginkan menu selain tuna, tersedia juga menu lain seperti nasi goreng.
Ukuran steak tuna ini bermacam-macam, ada yang small, medium, dan large dengan harga yang tentunya berbeda. Jadi untuk memesan steak tuna ini kita dapat menyesuaikan dengan porsi makan kita atau isi dompet kita hehehe.
Masalah harga, saya kira masih masuk dalam kategori wajar, kalau gak salah untuk ukuran small bisa ditebus dengan harga Rp.35.000,- per porsi, kalau yang lainnya saya lupa karena kebetulan pesannya yang ukuran small. Bukan karena faktor kantong sih, tapi memang saat itu sudah cukup kenyang, dan praktis memang saya tidak mampu menghabiskannya.

Satu porsi terdiri dari steak tunanya sendiri, sayuran cah kangkung yang disajikan dalam mangkuk super kecil, dan sebagai karbohidratnya kita bisa memilih antara nasi atau singkong yang disini disebutnya adalah ubi. Saya sendiri tentulah memilih untuk mencoba ubi, karena menurut teman saya ubi disini terasa lembut dan manis. Berikut ini penampakannya ya.


Seporsi steak tuna ukuran small



suasana "tuna house" yang menghadap ke pantai


Selain mencoba steak di tuna house, saya mencoba berkuliner ria di tempat lain. Kali ini di tempat yang lebih elit yaitu restauran wisata bahari. Restauran ini merupakan salah satu resturan ternama yang ada di kota Manado.  Masalah menu, restauran ini menawarkan menu yang lebih variatif, namun menu utamanya adalah seputar sea food seperti bermacam-macam ikan, kepiting, cumi-cumi, dan kerang. Untuk beberapa makanan, harga dihitung berdasarkan berat makanan. Saya waktu itu hampir terkecoh mengira bahwa harga kepiting yang tertera di daftar harga adalah harga per porsi, untunglah saya perhatikan lagi bahwa harga yang tertera adalah harga per ons. Pantas saja, pas pertama kali membaca kok murah sekali hahaha.

Suasana restaurant wisata bahari

Restauran ini tergolong cukup besar dengan kapasitas sekitar 200 orang. Pengunjung bisa memilih tempat duduk di dalam ruangan atau di luar ruangan. Jika memilih di luar ruangan, tentu saja kita bisa menikmati makanan sambil melihat indahnya pemandangan laut. Restauran ini tampaknya juga sering disewa untuk berbagai acara. Sewaktu disana, tempat duduk di dalam ruangan seluruhnya dalam kondisi reserve. 


Jembatan Ir. Soekarno
Jembatan Soekarno ini merupakan salah satu ikon baru di Manado. Jembatan yang memiliki panjang 1,127 km ini baru diresmikan pada bulan Mei 2015. Sebenarnya jembatan ini biasa saja, tidak sepanjang dan tidak se-spektakuler jembatan suramadu yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura. Namun bedanya, jembatan ini dilengkapi dengan lampu warni warni seperti merah, kuning, biru, hijau (ah…..kebetulan saya tidak menghafalkan warna apa saja). Lampu warna warni ini menjadikan jembatan ini terlihat sangat menarik di malam hari.

Bagi penggemar fotografi atau yang suka difoto, jembatan ini tentu sangat cocok untuk dikunjungi untuk digunakan sebagai obyek foto atau background foto diri. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera berfoto di jembatan ini.

narsis depat jempatan


Itulah tempat-tempat menarik dan kuliner yummy yang sudah saya cicipi ketika menginjakkan kaki di Manado. Selain di kotanya, agak bergeser sedikit ke arah Lahendong terdapat tempat menarik yang patut dikunjungi oleh para traveler yaitu danau Tomohon yang bisa dibaca disini. Selain tempat wisata dan kuliner, saya juga sempat menuliskan hal yang menarik lainnya dari manado. Artikelnya bisa dibaca disini.

Wednesday, August 24, 2016

Hal menarik dari Manado "Panggil Aku Cowok"


Panggil aku “cowok”….. mungkin terdengar sedikit aneh, walaupun sebenarnya kata cowok sendiri sudah biasa digunakan di kalangan anak-anak muda. Tapi umumnya kata ini  digunakan untuk mereka yang sudah saling mengenal. Tidak pantas rasanya kita menyapa seseorang yang baru ditemui dengan sapaan “cowok”. Kesannya jadi seperti kalimat guyonan atau bahkan seperti sapaan yang mengundang, genit, menggoda, dan kesan negatif lainnya. Tapi eitsss…….tunggu dulu, ternyata sapaan cowok ini tidak selalu bermakna negatif. Sapaan ini justru menjadi keunikan tersendiri dari salah satu wilayah di Sulawesi Utara, tepatnya kota Manado.

Siapa yang tak kenal Manado, kota terbesar kedua di pulau Sulawesi yang memiliki sejuta pesona. Spot-spot menarik yang layak dikunjungi seperti wisata air Taman Nasional Bunaken, danau Tondano, danau Linow Tomohon atau makanan khas seperti bubur manado dan pisang goroho sudah pernah dikupas tuntas oleh media dan para blogger di Indonesia. Selain keindahan alam dan makanan khas, ada satu lagi yang sangat terkenal di kalangan teman-teman saya. Mereka menyebutnya sebagai “bibir manado”. Yang dimaksud bibir disini tentunya bukan bibir sesungguhnya. “Bibir manado” yang dimaksud adalah wanita-wanita Manado yang berparas cantik dengan kulit putihnya yang masih terlihat khas Indonesia. Namun bagi saya pribadi, ada sisi lain yang menarik dan unik yang belum saya ketahui sebelum saya mendapat kesempatan untuk berkunjung di Manado.

Hal menarik tersebut berawal ketika pertama kali saya mencoba kuliner khas Manado. Mungkin karena tidak terbiasa dengan cita rasa yang pedas, saya merasa memerlukan minuman tambahan. Seperti biasa saya memanggil pelayan untuk memesan air mineral. Kalimat yang saya ucapkan waktu itu adalah “Mas…..pesan air mineral satu lagi ya?” dan apa jawaban si mas-mas tadi? dengan senyum tipis si mas-mas tadi berkata “Maaf, saya bukan orang Jawa. Panggil saya cowok”. Sedikit bingung tentunya. Saat itu teman saya yang sudah cukup lama tinggal di Manado langsung tersenyum dan menjelaskan bahwa “cowok” adalah sapaan yang umum untuk laki-laki di Manado, sedangkan untuk yang masih mbak-mbak biasanya disapa dengan “cewek”.  Dan benar saja, beberapa saat setelah itu, saya coba memperhatikan sekeliling saya, dan memang semuanya memanggil dengan sapaan cowok atau cewek.

Perasaan yang muncul saat itu adalah geli sekaligus takjub. Geli karena tidak biasa dan takjub karena rupaya masyarakat Manado lebih menyukai untuk memakai atribut sendiri. Seakan ingin menjadi tuan rumah di daerah sendiri, dalam hal sapa menyapa pun mereka memilih. Tak mau dipanggil mas-mas, sebutan untuk laki-laki Jawa yang saat ini sebenarnya sudah sangat umum dipakai di berbagai daerah.
Setelah mengetahui hal itu, saya mulai membiasakan diri dengan sapaan cowok atau cewek ala ala Manado. Setidaknya saya bertekad untuk menggunakannya selama beberapa hari ke depan selama saya berada di kota tersebut. Agak kagok awalnya, tapi lama kelamaan saya mulai akrab bahkan ketagihan  dengan sapaan itu. Ya…..mumpung ada di Manado, saya bisa bebas sepuas-puasnya memanggil orang dengan sapaan cowok. Kapan lagi  bisa menyapa brondong dengan sebutan cowok hahaha.

Begitulah Manado, kota yang tidak hanya memiliki pesona alam yang indah dan bubur seperti yang banyak diberitakan di media, atau tidak hanya sekedar bibir seperti yang diceritakan oleh teman-teman saya. Ada keunikan lain di sana. Keunikan yang menjadi daya tarik tersendiri setidaknya menurut saya pribadi. Jika ada kesempatan, saya pasti tidak menolak untuk kembali bertandang ke sana. Semoga saja.