Panggil aku “cowok”…..
mungkin terdengar sedikit aneh, walaupun sebenarnya kata cowok sendiri sudah
biasa digunakan di kalangan anak-anak muda. Tapi umumnya kata ini
digunakan untuk mereka yang sudah saling mengenal. Tidak pantas rasanya
kita menyapa seseorang yang baru ditemui dengan sapaan “cowok”. Kesannya jadi
seperti kalimat guyonan atau bahkan seperti sapaan yang mengundang, genit,
menggoda, dan kesan negatif lainnya. Tapi eitsss…….tunggu dulu, ternyata sapaan
cowok ini tidak selalu bermakna negatif. Sapaan ini justru menjadi keunikan
tersendiri dari salah satu wilayah di Sulawesi Utara, tepatnya kota Manado.
Siapa yang tak kenal
Manado, kota terbesar kedua di pulau Sulawesi yang memiliki sejuta pesona.
Spot-spot menarik yang layak dikunjungi seperti wisata air Taman Nasional
Bunaken, danau Tondano, danau Linow Tomohon atau makanan khas seperti bubur
manado dan pisang goroho sudah pernah dikupas tuntas oleh media dan para
blogger di Indonesia. Selain keindahan alam dan makanan khas, ada satu lagi
yang sangat terkenal di kalangan teman-teman saya. Mereka menyebutnya sebagai
“bibir manado”. Yang dimaksud bibir disini tentunya bukan bibir sesungguhnya.
“Bibir manado” yang dimaksud adalah wanita-wanita Manado yang berparas cantik dengan
kulit putihnya yang masih terlihat khas Indonesia. Namun bagi saya pribadi, ada
sisi lain yang menarik dan unik yang belum saya ketahui sebelum saya mendapat
kesempatan untuk berkunjung di Manado.
Hal menarik tersebut
berawal ketika pertama kali saya mencoba kuliner khas Manado. Mungkin karena
tidak terbiasa dengan cita rasa yang pedas, saya merasa memerlukan minuman
tambahan. Seperti biasa saya memanggil pelayan untuk memesan air mineral.
Kalimat yang saya ucapkan waktu itu adalah “Mas…..pesan air mineral satu lagi
ya?” dan apa jawaban si mas-mas tadi? dengan senyum tipis si mas-mas tadi
berkata “Maaf, saya bukan orang Jawa. Panggil saya cowok”. Sedikit bingung
tentunya. Saat itu teman saya yang sudah cukup lama tinggal di Manado langsung
tersenyum dan menjelaskan bahwa “cowok” adalah sapaan yang umum untuk laki-laki
di Manado, sedangkan untuk yang masih mbak-mbak biasanya disapa dengan “cewek”.
Dan benar saja, beberapa saat setelah itu, saya coba memperhatikan
sekeliling saya, dan memang semuanya memanggil dengan sapaan cowok atau cewek.
Perasaan yang muncul saat
itu adalah geli sekaligus takjub. Geli karena tidak biasa dan takjub karena
rupaya masyarakat Manado lebih menyukai untuk memakai atribut sendiri. Seakan
ingin menjadi tuan rumah di daerah sendiri, dalam hal sapa menyapa pun mereka
memilih. Tak mau dipanggil mas-mas, sebutan untuk laki-laki Jawa yang saat ini
sebenarnya sudah sangat umum dipakai di berbagai daerah.
Setelah mengetahui hal itu,
saya mulai membiasakan diri dengan sapaan cowok atau cewek ala ala Manado.
Setidaknya saya bertekad untuk menggunakannya selama beberapa hari ke depan
selama saya berada di kota tersebut. Agak kagok awalnya, tapi lama kelamaan
saya mulai akrab bahkan ketagihan dengan sapaan itu. Ya…..mumpung ada di Manado,
saya bisa bebas sepuas-puasnya memanggil orang dengan sapaan cowok. Kapan lagi
bisa menyapa brondong dengan sebutan cowok hahaha.
Begitulah Manado, kota yang
tidak hanya memiliki pesona alam yang indah dan bubur seperti yang banyak
diberitakan di media, atau tidak hanya sekedar bibir seperti yang diceritakan
oleh teman-teman saya. Ada keunikan lain di sana. Keunikan yang menjadi daya
tarik tersendiri setidaknya menurut saya pribadi. Jika ada kesempatan, saya
pasti tidak menolak untuk kembali bertandang ke sana. Semoga saja.
Lebih menarik dari dua artikel lainnya
ReplyDeletemohon tinggalkan identitas, thx
Deletemohon tinggalkan identitas, thx
DeleteDitunggu ceritanya yang lain, terutama tentang manusianya (selain tentang pemandangan alam atau keindahan fisik lain tentunya)
Delete