StatCounter

View My Stats

Wednesday, August 24, 2016

Hal menarik dari Manado "Panggil Aku Cowok"


Panggil aku “cowok”….. mungkin terdengar sedikit aneh, walaupun sebenarnya kata cowok sendiri sudah biasa digunakan di kalangan anak-anak muda. Tapi umumnya kata ini  digunakan untuk mereka yang sudah saling mengenal. Tidak pantas rasanya kita menyapa seseorang yang baru ditemui dengan sapaan “cowok”. Kesannya jadi seperti kalimat guyonan atau bahkan seperti sapaan yang mengundang, genit, menggoda, dan kesan negatif lainnya. Tapi eitsss…….tunggu dulu, ternyata sapaan cowok ini tidak selalu bermakna negatif. Sapaan ini justru menjadi keunikan tersendiri dari salah satu wilayah di Sulawesi Utara, tepatnya kota Manado.

Siapa yang tak kenal Manado, kota terbesar kedua di pulau Sulawesi yang memiliki sejuta pesona. Spot-spot menarik yang layak dikunjungi seperti wisata air Taman Nasional Bunaken, danau Tondano, danau Linow Tomohon atau makanan khas seperti bubur manado dan pisang goroho sudah pernah dikupas tuntas oleh media dan para blogger di Indonesia. Selain keindahan alam dan makanan khas, ada satu lagi yang sangat terkenal di kalangan teman-teman saya. Mereka menyebutnya sebagai “bibir manado”. Yang dimaksud bibir disini tentunya bukan bibir sesungguhnya. “Bibir manado” yang dimaksud adalah wanita-wanita Manado yang berparas cantik dengan kulit putihnya yang masih terlihat khas Indonesia. Namun bagi saya pribadi, ada sisi lain yang menarik dan unik yang belum saya ketahui sebelum saya mendapat kesempatan untuk berkunjung di Manado.

Hal menarik tersebut berawal ketika pertama kali saya mencoba kuliner khas Manado. Mungkin karena tidak terbiasa dengan cita rasa yang pedas, saya merasa memerlukan minuman tambahan. Seperti biasa saya memanggil pelayan untuk memesan air mineral. Kalimat yang saya ucapkan waktu itu adalah “Mas…..pesan air mineral satu lagi ya?” dan apa jawaban si mas-mas tadi? dengan senyum tipis si mas-mas tadi berkata “Maaf, saya bukan orang Jawa. Panggil saya cowok”. Sedikit bingung tentunya. Saat itu teman saya yang sudah cukup lama tinggal di Manado langsung tersenyum dan menjelaskan bahwa “cowok” adalah sapaan yang umum untuk laki-laki di Manado, sedangkan untuk yang masih mbak-mbak biasanya disapa dengan “cewek”.  Dan benar saja, beberapa saat setelah itu, saya coba memperhatikan sekeliling saya, dan memang semuanya memanggil dengan sapaan cowok atau cewek.

Perasaan yang muncul saat itu adalah geli sekaligus takjub. Geli karena tidak biasa dan takjub karena rupaya masyarakat Manado lebih menyukai untuk memakai atribut sendiri. Seakan ingin menjadi tuan rumah di daerah sendiri, dalam hal sapa menyapa pun mereka memilih. Tak mau dipanggil mas-mas, sebutan untuk laki-laki Jawa yang saat ini sebenarnya sudah sangat umum dipakai di berbagai daerah.
Setelah mengetahui hal itu, saya mulai membiasakan diri dengan sapaan cowok atau cewek ala ala Manado. Setidaknya saya bertekad untuk menggunakannya selama beberapa hari ke depan selama saya berada di kota tersebut. Agak kagok awalnya, tapi lama kelamaan saya mulai akrab bahkan ketagihan  dengan sapaan itu. Ya…..mumpung ada di Manado, saya bisa bebas sepuas-puasnya memanggil orang dengan sapaan cowok. Kapan lagi  bisa menyapa brondong dengan sebutan cowok hahaha.

Begitulah Manado, kota yang tidak hanya memiliki pesona alam yang indah dan bubur seperti yang banyak diberitakan di media, atau tidak hanya sekedar bibir seperti yang diceritakan oleh teman-teman saya. Ada keunikan lain di sana. Keunikan yang menjadi daya tarik tersendiri setidaknya menurut saya pribadi. Jika ada kesempatan, saya pasti tidak menolak untuk kembali bertandang ke sana. Semoga saja.


4 comments:

  1. Lebih menarik dari dua artikel lainnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditunggu ceritanya yang lain, terutama tentang manusianya (selain tentang pemandangan alam atau keindahan fisik lain tentunya)

      Delete